Senin, 10 Februari 2014

Hujan Turun

Gerimis di penghujung bulan ini belum juga reda
Mentari yang menjanjikan kehangatan ternyata tiada datang
Dingin...
Serupa salju menyelimuti tubuhku,
Menjaringku sebagai tawanan
Dan membiarkanku terkapar
Dalam beku yang berkepanjangan
Entah sampai kapan aku mampu bertahan...

Coba Lihat, Dengar, Rasakan (SO7 song’s tittle) bait puisi tersebut di atas. Puitis juga ya aku, hahaha.... Ehm *benerin bando* Tapi walaupun secara sekilas terlihat seakan-akan menceritakan tentang hujan, namun kalau bener-bener dilihat, diraba dan diterwang, “...maka sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa...” (bukan!) sesungguhnya bait puisi itu berisi tentang ...
ah sudahlah... aku nggak mau membahas itu, lagi nggak mau galau, malu. Karena udah terlalu mainstream sekarang galau-galauan. Sekarang itu cabe-cabean. Hahaha...
Apaan sih ini? Nggak penting banget deh, sumpah!!

Hmm nggak tau kenapa hujan akhir-akhir ini sungguh awet banget sekali. Udah dikasih formalin kali ya hujannya... Entahlah, hanya tuhan yang tau. Dan yang pasti jika emang hujannya udah dikasih formalin, tentunya akan dibutuhkan lebih banyak formalin daripada yang dibutuhkan untuk mengawetkan cintaku padamu.

Iya, karena saking awetnya, sampai-sampai bumi seakan-akan nggak sanggup lagi untuk bertahan, untuk menapung banyakanya rintik air yang menetes, yang terjatuh dari langit. Hmm udah kayak bidadari aja ya? Sama-sama terjatuh dari langit. Tapi bedanya kalau bidadari jatuh dari surga di hadapanku, eeaaa... Dan akhirnya yang terjadi yaitu meluapnya air ke daratan, iya banjir. Kalau di daerah langganan banjir sih mungkin itu udah mainstrean, masih maklum, masih biasa. Nah, tapi kali ini air sungguh serakah. Sungguh biasa di luar. Daerah yang belum pernah merasakan bagiamana rasanya ada air yang berada nggak pada tempatnya itu pun kini juga ikut dirasakan. Yapz, tuhan emang maha adil. Loh??

Banyak yang bilang kalau hujan di awal tahun itu adalah pembalasan dari langit karena yang udah disakitin oleh para manusia yang tinggal di bumi. Iya, katanya pas tanggal 1 Januari seluruh umat manusia di belahan dada manapun pada menembaki langit secara bertubi-tubi pakai api. Nah, ini balasannya. Giliran langit yang menembaki para manusia-manusia dengan air. Mending pake air, coba kalau pake meteor?? Ini berarti langit masih punya rasa toleran yang tinggi. Walaupun dia udah disakiti, tapi dia membalasnya cuma sewajarnya aja, nggak berlebihan. Hmm tapi tetep aja balas dendam. Dan balas dendam itu nggak baik. Tapi ya kalau nggak balas dendam ya belum lega ding ya... Okelah, nggak apa-apa kok ngit, aku aja kalau udah disakiti, ya aku juga akan balas dendam ke mereka yang udah dengan beraninya nyakitin aku #ApaanSih...

Yang jelas, rintik air yang menetes, yang terjatuh dari langit nggak ada hubungannya dengan euphoria pergantian tahun yang dirayakan oleh seluruh umat manusia di belahan dada ini. Rintik air yang menetes, yang terjatuh dari langit emang udah sepatutnya mereka menetes, terjatuh dari langit untuk membasahi bumi.

Biarpun meskipun bagaimanapun sekarang adalah musim hujan, musim di mana emang harus ada hujan, tapi kadang ada segelintir anak cucu adam yang mengeluh, nggak terima, menentang, menolak rintik air yang menetes, yang terjatuh dari langit itu. Bahkan kadang ada juga yang sampai melakukan aksi turun ke jalan dan sampai ke gedung DPR.

Ini lagi musim hujan, pas musim panas, mereka juga pada mengeluh, nggak terima, menentang, menolak dan bahkan ada yang sering melakukan aksinya di sosmed, biasanya mereka pada bilang kalau nerakanya bocor. Emang nerakanya lagi datang bulan?? Terus nggak pake no drop gitu makanya bocor??! Maunya mereka itu sebenarnya apa sih... aja-aja ada. Hmm tapi entahlah, hanya mereka yang tau dan aku nggak mau tau.

Tapi kalau kita sedikit lebih berintrospeksi diri, dan lebih menghayati dengan apa yang lagi terjadi, sesungguhnya ini adalah dampak dari akibat ulah tangan-tangan jahil dan pikiran serakah para manusia. Yah, global warming. Cuaca ekstrim yang akhir-akhir ini terjadi, nggak lain nggak bukan adalah asap dari api yang telah kita nyalakan. (wuih, keren juga ya bahasaku J)

Seharusnya, dalam situasi dan kondisi yang sepeti apa dan yang bagaimanapun, kita seyogyanya mampu untuk menghadapi dan menerima dengan sepenuh hati. Bukan malah mengeluh dan menentang.
“Kita harus bisa menguasai keadaan, jangan keadaan yang menguasai kita”.

¯...Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan kucoba bertahan...¯
#Np Sheila On 7 – Hujan Turun 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar