Kamis, 15 Januari 2015

Tak Ada Gagal yang Abadi

Setelah lulus kuliah, ada satu hal yang selalu membayangi pikiranku. CARI KERJA YANG ENAK!

Aku selalu berpikir mencari pekerjaan yang enak dan simpel. Walaupun aku tahu, yang namanya pekerjaan sebenarnya gak ada yang enak. Bagaimanapun juga namanya juga cuma ada dalam pikiran jadi suka-suka aku mau mikir apaan.

Sebagai mahasiswa lulusan Pendidikan Psikologi dan Bimbingan atau yang biasa disebut Guru BK. Jelas mencari pekerjaan sesuai ijazah bakalan susah, dan jauh dari kata sejahtera. Kalian pasti tahu, yang namanya guru honorer, atau guru yang belum PNS hidupnya menyedihkan, sangat jauh dari kata sejahtera. Kerja setiap hari dengan jam kerja yang sama seperti guru PNS tapi masalah gaji, 10 % aja gak ada.

Aku sempat dilema dengan kenyataan ini. Kalau aku harus bekerja sebagai guru BK, aku bisa terlihat keren karena punya gelar guru, bukan pengangguran. Tapi kalau masalah kesejahteraan, aku cuma bisa nangis sendirian, sambil meluk boneka. Boneka jenglot.

Seharusnya, Jangan Banyak Alasan!

Setiap orang pasti ingin sukses. Ingin mempunyai hidup yang baik. Namun, sayangnya setiap orang tidak tahu caranya untuk sukses. Atau mungkin, sebenarnya mereka tahu, tapi sayangnya mereka terkesan tidak mau tahu. Tidak mau tahu sebenarnya alasan yang dipakai oleh orang-orang pemalas di luar sana. Mereka ingin sukses, tapi tidak mau susah, tidak mau ribet.

Aku sering mendengar kalimat, "jangan takut untuk bermimpi’. Atau kalimat lain seperti, ‘Semua berawal dari mimpi’. Sampai kalimat mainstream, ‘Jangan pernah menyepelekan mimpi’. Dari ketiga kalimat sakti tentang mimpi tersebut menunjukkan bahwa mimpi adalah kekuatan kita untuk meraih kesuksesan, meraih tujuan hidup kita. Ketika kita punya mimpi, maka kita punya tujuan hidup.

Sayangnya, banyak yang punya mimpi hebat tapi tidak diimbangi dengan usaha yang hebat. Mereka punya mimpi yang telah menunggu untuk direalisasikan, tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara merealisasikannya atau lebih tepatnya tidak mau tahu. Mimpi hanyalah sekedar mimpi buat mereka.

Ada salah satu temenku, sebut saja Abdi. Dia suka sama cewek satu kelas di kampusnya. Sebut saja, Saska. Dan aku, sebut saja, ‘Hamba Allah’. Oke, sepertinya ‘Hamba Allah’ gak lazim untuk dipakai dalam persoalan ‘sebut saja’. Aku sedang tidak dalam rangka menyumbang dana untuk peduli kasih.