Setelah lulus kuliah, ada satu hal yang selalu
membayangi pikiranku. CARI KERJA YANG ENAK!
Aku selalu berpikir mencari pekerjaan yang
enak dan simpel. Walaupun aku tahu, yang namanya pekerjaan sebenarnya gak ada
yang enak. Bagaimanapun juga namanya juga cuma ada dalam pikiran jadi suka-suka
aku mau mikir apaan.
Sebagai mahasiswa lulusan Pendidikan Psikologi
dan Bimbingan atau yang biasa disebut Guru BK. Jelas mencari pekerjaan sesuai
ijazah bakalan susah, dan jauh dari kata sejahtera. Kalian pasti tahu, yang
namanya guru honorer, atau guru yang belum PNS hidupnya menyedihkan, sangat
jauh dari kata sejahtera. Kerja setiap hari dengan jam kerja yang sama seperti
guru PNS tapi masalah gaji, 10 % aja gak ada.
Aku sempat dilema dengan kenyataan ini. Kalau
aku harus bekerja sebagai guru BK, aku bisa terlihat keren karena punya gelar
guru, bukan pengangguran. Tapi kalau masalah kesejahteraan, aku cuma bisa
nangis sendirian, sambil meluk boneka. Boneka jenglot.
Hampir sebulan aku merenung, berpikir harus
mencari pekerjaan seperti apa yang cocok. Tapi aku belum juga menemukan pilihan
yang pas. Sebulan merenung, itu sama saja sebulan aku menganggur. Dan sebisa
mungkin aku mengurangi intensitas keluar dari rumah. Mentalku belum siap untuk ketemu
tetangga yang memberikan pertanyaan, ‘Loh Mas, udah selesai kuliahnya? Sekarang
kerja dimana?’
Itu adalah pertanyaan mengerikan kedua dalam
hidupku, setelah sebelumnya aku dibikin stres dengan pertanyaan dari tetangga,
‘Loh Mas? Masih kuliah aja tho? Kapan lulusnya?’
Orangtuaku sempat memintaku untuk mencoba
mendaftar di sekolah-sekolah yang ada di kotaku. Namun, aku sama sekali tidak
mempunyai hasrat untuk itu. Entah kenapa menjadi guru, dengan bayaran yang gak
manusiawi dan ada kemungkinan disuruh-suruh sama guru senior secara semena-mena
membuatku berpikri menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang membuang waktu.
Toh, untuk menjadi PNS aku tetap harus melalui jalur CPNS, seberapa lamanya aku
mengajar tetap tidak dihitung masa mengajarku.
Aku harus menjelaskan kepada orangtuaku bahwa,
untuk saat ini menjadi guru bukanlah prioritasku. Aku ingin membantu
perekonomian orangtua, bukan membebaninya ‘lagi’ dengan minta ongkos bensin
tiap pagi buat pergi mengajar. Aku memang telah mengambil keputusan. Aku mantap
untuk tidak jadi guru. Dengan ini aku berharap aku bisa membuktikan pada
orangtuaku bahwa pilihanku benar. Seperti kutipan yang masih kuingat dengan
jelas dari Pandji Pragiwaksono,
“Kedewasaan datang dari kemauan untuk mengambil keputusan-keputusan sulit dalam
hidup”.
Mantap untuk tidak menjadi guru, aku sempat
ingin mencoba mendaftar di bank. Namun, mendengar cerita horor dari temen-temen
kalau kerja di bank itu penuh tuntutan dan pulangnya malem terus. Jelas hal itu
bukan kategori pekerjaan yang enak menurutku. Sepertinya aku punya mental
sebagai pengusaha, bukan sebagai karyawan.
Karena minim kreativitas, aku pun mencoba
browsing untuk mencari ide bisnis usaha yang simpe namun menghasilkan. Gak
sengaja, ternyata aku dibawa ke website http://surabayavirtualoffice.com/
dengan keyword ‘bisnis usaha mudah dan menguntungkan’. Awalnya, aku berpikir
ini adalah website MLM. Bisnis yang suka menebar janji surga tapi yang
menawarkan sendiri hidupnya masih aja susah.
Karena tampilannya yang menarik, aku pun
tertarik untuk membacanya, ternyata website itu adalah VOffice. Website yang
menyediakan jasa layanan kantor virtual. Wuih... keren banget, kantor virtual
dan sewanya lebih murah sampai 90% dari sewa kantor biasa. Untuk saat ini, mungkin
aku cuma bisa baca-baca aja, tapi kelak kalau aku punya usaha sendiri. Aku
pasti akan mencoba layanan VOffice ini karena pelayanannya yang aduhai.
Setelah selesai browsing dan belum menemukan
usaha apa yang akan aku jalani. Aku ditelfon oleh saudaraku disuruh cepat
pulang ke rumah.
Begitu sampai di rumah, saudaraku ternyata
menawariku pekerjaan. Awalnya aku sempat berpikir negatif, aku mau disuruh
kerja jadi tukang asuh bayi. Bayi Tapir. Namun, kecurigaanku tidak terbukti,
saudaraku menawariku pekerjaan yang simpel tapi agak-agak enggak keren
(menurutku). Ngurusin toko sembako.
Jadi, nantinya aku disuruh mengurus toko
sembako saudaraku. Secara cuma-cuma. Tanpa ngurus ijin usaha dan ijin jomblo. Aku
dipercaya untuk mengurus toko bukan karena aku keren dan punya visi yang
cerdas. Tapi karena aku nganggur. Kasian, ya.
Awalnya sih aku heran, kok aku yang disuruh
jagain? Lah saudaraku sendiri ngapain? Ternyata disaat saudaraku udah buka
usaha toko sembako dan jalan selama beberapa bulan. Saudaraku itu, membeli ruko
baru di pasar yang lokasinya lebih strategis dan rencananya mau buka sembako
grosiran. Dan aku, ditunjuk secara aklamasi untuk mengelola toko sembako. Aku
pun mau gak mau mengiyakan.
Baru beberapa hari jualan sembako, aku mulai
males. Selain mesti menghafal harga barang beraneka macam, aku juga mesti sabar
duduk termenung menunggu pembeli datang. Kehidupanku menjadi monoton.
Selain itu, prestise sebagai sarjana
pendidikan yang akhirnya jualan sembako jadi terkesan tidak elite menurutku.
Aku malu mengakui pada teman-teman lain bahwa hidupku sekarang hanya dilalui
untuk jualan sembako. Walaupun keuntungan dari jualan ini sebenarnya sangat
lumayan, kalau aku teliti dan disiplin.
Gara-gara rasa malas yang cukup besar. Aku
hanya melayani pembeli sekenanya. Dapet uang berapa aja, yaudah. Aku tidak
terlalu memikirkan persediaan stok barang. Tanpa aku sadar, perlahan-lahan
barang mulai habis dan uangnya juga gak keliatan buat apaan. Aku memakai uang
penjualan seperlunya, untuk jajan, bensin dan pulsa. Namun ternyata, seperlunya
menurutku ternyata membuat daganganku semakin habis. Aku mulai bingung.
Sebelum benar-benar terlambat, aku mulai
membangun komitmen diri sendiri. Kepercayaan dari saudaraku adalah sesuatu yang
penting, aku harus menunjukkan bahwa aku bisa mengelola toko ini. Aku juga
harus mulai disiplin dan tekun, mencatat setiap barang yang laku terjual dan
mulai memberi label harga untuk barang-barang jualanku.
Daganganku yang awalnya begitu penuh di toko,
perlahan-lahan mulai habis. Namun aku tidak menyerah, dengan komitmen yang aku
punya, aku pasti bisa kembali memenuhi dagangan di toko ini. karena aku
percaya, “Kesuksesan tidaklah permanen. Hal yang sama juga berlaku untuk
kegagalan.” Salah satu kutipan penting dari –Deli Crossword.
Mungkin aku gagal mengelola toko sembako, tapi
aku percaya aku masih bisa berjuang untuk kembali sukses. Karena kegagalan
tidak akan terus menerus setia bersamaku. Pada saaatnya nanti, aku pasti akan
mendapatkan kesuksesanku kembali.
“Kegagalan adalah peluang untuk memulai
kembali dengan lebih cerdas.” –Henry Ford.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar