Minggu, 22 Maret 2015

Di Situ Kadang Saya Merasa Sedih

Setelah sekian lama menjalani hidup sebagai seorang jomblo expert. Jomblo expert? Apa itu? Jomblo expert adalah merupakan tingkatan dari jomblo stadium ketiga dari keempat tingkatan stadium jomblo yang berlaku di Indonesia.
Eits, tunggu dulu, kenapa gue jadi ngomongin jomblo? Kenapa kalian jadi bangga begitu tahu kalau gue jomblo? Gue nggak mau membahas itu. Gue nggak mau membahas kalau gue lagi jomblo. Nggak! Menambah rasa sakit saja.
Gue mau pamer kalau sekarang gue sudah nggak bangun siang-twitteran-makan (sambil twitteran)-nonton tv (sambil twitteran)-mandi (nggak sambil twitteran)-nongkrong (sambil twitteran)-ngabisin duit (kadang sambil twitteran juga)-begadang (sambil twitteran)-tidur (nggak sambil twitteran).
Gue sudah bisa bangun pagi (nggak langsung twitteran)-sholat (nggak sambil twitteran)-mandi (nggak sambil twitteran juga)-sarapan (sambil twitteran)-cari duit- (nggak sempet twitteran)- (bisa) sedekah (nggak gue pamerin di twitter).
Sudah keren kan siklus kehidupan gue sekarang? Hahaha... Iya, sekarang gue sudah kerja. Kerja beneran kerja. Bukan “kerjaannya ngetwit” atau “kerjaannya mencari kerja” atau “kerjaannya tidur”. Kerjanya ini beneran menghasilkan duit. Jadi wartawan, kerenkan? Hahahalhamdulillah...

Check-in Yuuk !!

“... I’m at a payphone trying to call home
All of my change, I spent on you
Where have the times gone
Baby, it’s all wrong
Where are the plans we made for two...”
Lirik lagu Payphone punyanya Maroon 5 yang dicover oleh si bibir sexy Niki Minaj itu, dari tadi pagi terus saja mengalun indah mewarnai pagi yang masih gelap di kamarku. Eh, bukan gelap ding, karena ini sudah pukul 07.00 WIB, cuma kamarku saja yang masih tertutup rapat, sehingga sinar mentari pagi yang hangat nggak bisa menyelinap masuk menyinari kamarku yang masih saja terasa senyap ini.
STOP !! Bentar bentar, ini kayaknya bukan kamarku. “Aku ini lagi di mana? Kamu siapa? Apa yang terjadi semalam?” Halah...
Iya, ini bukan di kamarku, tapi di rental PlayStation-nya @KhafidArdiansyah, sahabat seperjuanganku dulu saat masih sama-sama memperjuangkan sebuah toga sampai titik darah penghabisan. Lima tahun bergelut dengan buku dan teori-teori di sebuah perguruan-tinggi-swasta-yang-mempunyai-visi-melaju-dengan-mutu di Kota Semarang.
Sudah hampir satu bulan aku dipelihara oleh @KhafidArdiansyah. Tidur di tempatnya, makan di tempatnya, ngopi di tempatnya, mandi di tempatnya, dan juga boker di tempatnya. Tapi aku nggak ngupil di tempanya kok, sumpah!!