“... I’m at a
payphone trying to call home
All of my change, I spent on you
All of my change, I spent on you
Where have the times
gone
Baby, it’s all wrong
Baby, it’s all wrong
Where are the plans we
made for two...”
Lirik lagu
Payphone punyanya Maroon 5 yang dicover oleh si bibir
sexy Niki Minaj itu, dari tadi pagi terus saja mengalun indah
mewarnai pagi yang masih gelap di kamarku. Eh, bukan gelap ding,
karena ini sudah pukul 07.00 WIB, cuma kamarku saja yang masih
tertutup rapat, sehingga sinar mentari pagi yang hangat nggak bisa
menyelinap masuk menyinari kamarku yang masih saja terasa senyap ini.
STOP !! Bentar
bentar, ini kayaknya bukan kamarku. “Aku ini lagi di mana? Kamu
siapa? Apa yang terjadi semalam?” Halah...
Iya, ini bukan di
kamarku, tapi di rental PlayStation-nya @KhafidArdiansyah,
sahabat seperjuanganku dulu saat masih sama-sama memperjuangkan
sebuah toga sampai titik darah penghabisan. Lima tahun bergelut
dengan buku dan teori-teori di sebuah
perguruan-tinggi-swasta-yang-mempunyai-visi-melaju-dengan-mutu di
Kota Semarang.
Sudah hampir satu
bulan aku dipelihara oleh @KhafidArdiansyah. Tidur di tempatnya,
makan di tempatnya, ngopi di tempatnya, mandi di tempatnya, dan juga
boker di tempatnya. Tapi aku nggak ngupil di tempanya kok, sumpah!!
Awal ceritanya bermula saat dia melihat aku terdiam tak berdaya, di sudut sekolah tempat yang kau janjikan ingin berjumpa denganku walau mencuri waktu berdusta pada guru #Nananana
Oke skip,
kembali ke laptop. Bukan! Kembali ke jalan yang benar, bukaan juga !
kembali ke lirik lagu Payphone tersebut di atas. Iya, lirik
lagu itu ada karena itu merupakan nada dering panggilan yang sudah
aku pasang sebelumnya di ponsel klasikku ini. Dan tentunya nada
dering itu bunyi karena ada panggilan yang masuk. Mengapa bisa
begitu? Ohh, sudah pada tahu? Yasudahlah.
Dari tadi pukul ... berapa ya aku
lupa, bentar bentar aku coba mengingat-ingat dulu. *krik krik krik*
(seolah-olah itu suara jam yang berputar bukan suara jangkrik) nggak
ingat juga. Kayaknya aku emang benar-benar sudah lupa, tapi ini aku
terlupa bukan karena faktor usia, memang karena aku lupa saja.
Serius, ini nggak bohong.
Dari tadi pagi,
ada banyak sekali banget panggilan masuk dengan nomer yang
berbeda-beda.
Ada nomer lama
yang sudah tersimpan dan ada nama pemiliknya, ada nomer lama yang aku
simpan dan nggak ada nama pemiliknya, ada nomer lama yang sudah aku
hapus dan nggak ada nama pemiliknya, ada nomer baru yang belum aku
simpan dan belum ada nama pemiliknya, ada nomer baru yang sudah aku
simpan kemudian aku hapus dan belum ada nama pemiliknya, dan ada juga
nomer baru yang belum aku simpan dan belum ada nama pemiliknya.
Ada-ada saja kan?
Kandani o’ !!
Dari sekian nomer yang melakukan
panggilan tapi nggak aku angkat itu, ada beberapa nomer yang berani
untuk mencoba mengirimkan pesan singkat, aku biasa menyebutnya dengan
sms. Aku salut pada nomer itu. Karena nomernya cantik? Bukan
pada nomernya si, tapi pada pemiliknya. Dia nggak putus asa, otaknya
jalan, kakinya mikir, dia merasa punya alternatif lain yang bisa dia
lakukan agar hasratnya itu bisa terpenuhi.
Dan akhirnya
dengan mengirimkan pesan singkatlah yang kemudian dia ambil. Isi dari
pesan tersebut yaitu menanyakan aku lagi ada di mana? Dengan siapa?
Semalam berbuat apa? Bukan!! Tapi dia menanyakan kepadaku nanti malam
ada acara apa nggak. Saat menerima pesan itu, aku nggak langsung
membalasnya (jangan berpikiran kalau aku nggak langsung membalas
pesan itu karena aku nggak punya pulsa, karena saat itu emang aku
lagi nggak punya pulsa) melainkan aku langsung menanyakan schedule-ku
terlebih dahulu sama managerku, tapi nggak ada jawaban, karena memang
aku nggak punya manager. Kemudian aku bertanya pada rumput yang
bergoyang, dan tetap saja aku nggak mendapatkan jawaban atas
pertanyaanku itu. Aku nggak bisa seperti Om Ebiet. Aku nggak bisa.
Aku lemah. Sebagai seorang lelaki, aku merasa aku telah gagal. Lelaki
macam apa aku ini.
Selain nomer tersebut di atas ada juga
nomer yang mengganggu pikiran di alam bawah sadarku. Iya, karena
nomer itu beda dengan nomer-nomer yang lain. Jumlah digitnya beda,
nggak 12 seperti nomer yang lain. Nomer itu juga melakukan panggilan
berkali-kali nggak cuma sekali ataupun dua kali, tapi berkali-kali.
Catat, berkali-kali. 3 atau 4 kali kalau nggak salah. Nggak seperti
nomer lain yang melakukan panggilan cuma sekali atau dua kali saja.
Nomer itu berani tampil beda. Keren. Setelah aku selidiki ternyata
itu bukan nomer telepon seluler, itu nomer telepon rumah. Tapi siapa
yang menelponku pakai nomer telepon rumah sampai berkali-kali itu??
Siapa?? Siapa tolong jawab !! Please...
Dari semua nomer-nomer yang melakukan
panggilan itu, aku kira mereka cuma mau mendengarkan RBT baruku saja.
Karena pernah terjadi sebelumnya ada nomer lama yang sudah tersimpan
di kontak hapeku dan sudah ada nama pemiliknya melakukan panggilan ke
nomerku. Aku sempet terlena sejenak karena mendengar nada dering di
hapeku yang berbunyi itu. Setelah tersadar, kemudian aku angkat,
seolah-olah aku ngomong seperti ini, “Assalamu’alaikum, dengan
@dadangpratama di sini, ada yang bisa saya bantu?” padahal
sebenarnya seperti ini, “hallo, ada apa?” Dan dia (lawan bicaraku
yang berada nun jauh di sana, entah dimana) menjawab seperti ini,
“Kok malah kamu angkat si Da!? Aku kan nelpon kamu cuma mau
dengerin RBT kamu yang baru itu. Aku suka sama lagu itu *tanda seru
tanda seru emoticon kesal*, kemudian terdengar bunyi tut tut tut
suara sepatu kuda.
Nah, dari kejadian
itulah aku belajar. Seperti kata pantun, eh bukan pantun tapi
pepatah, hmm kayaknya bukan pepatah juga deh... pokoknya itu yang
tertulis di buku tulis SIDUL yang ada di paling bawah itu, “belajar
dari pengalaman” yeah, because experience is the best teacher”.
Aku ingat, itu adalah sebuah peribahasa. Dan kemudian dari pada itu,
maka setiap hapeku berdering karena ada panggilan yang masuk, aku
biarin saja. Paling itu cuma mereka yang mau dengerin RBT baruku
saja. Lagian aku juga menikmati nada dering di hapeku yang berbunyi
setiap ada panggilan yang masuk. Lagunya Maroon 5 yang dicover
sama Niki Minaj. Suaranya sexy seperti orangnya, halaaah...
Setelah pagi itu mereka (mungkin
merasa) gagal untuk bisa menghubungiku, akhirnya siangnya mereka
mencoba keberuntungan kembali untuk menghubungiku lagi.
Sekitar pukul
13:00 kembali terdengar suara dari Niki Minaj yang menyanyikan
lagunya Maroon 5 itu dari hapeku. Kali ini yang menelpon nomer rumah.
Ini terlihat dari struktur nomernya yang seperti ini **********
(sensor).
Karena aku punya
motto belajar dari pengalaman, aku nggak langsung mengangkat
telepon itu. “Ah, paling temenku yang iseng mau dengerin RBTku
aja”, gumamku. Aku biarkan dulu beberapa saat dan akhirnya mati.
Kemudian selang beberapa detik, nomer itu menelpon lagi. Aku masih
bergeming. Dan pada panggilan yang ketiga, aku mencoba untuk
mengangkat telepon itu. Bukan karena aku nggak suka sama dia yang
lagi asyik dengerin RBT punyaku, hanya saja aku lama-lama kesal juga.
“hallo, selamat
siang. Dengan Bapak Dadang Pratama?”, suara seorang cewek yang
berada di balik telepon itu. Walaupun aku belum lihat wajahnya
seperti apa, aku yakin kalau dia itu cantik.
Dengan agak
sedikit shock aku jawab, “Iya, hallo juga. Benar sekali.
Anda siapa? Saya lagi ada di mana? Apa yang terjadi semalam?”
“Kami dari
*tiiiiiiiiiiiiitt* bermaksud untuk mengundang Bapak Dadang Pratama
dalam walk interview di *tiiiiiiiiitt* besok hari Senin pukul 09.00,
gimana Bapak Dadang Pratama bisa hadir?”
“Maaf mbak, saya
masih kecil dan imut-imut, jangan panggil saya dengan sebutan Bapak
bisa? Karena jangankan punya anak, punya pacar saja saya belum.”
Aku sempet agak sedikit tersinggung dengan kata Bapak yang diucapkan
mbaknya berkali-kali kepadaku itu. Itu aku bicara dalam hati. Aslinya
begini, “Iya, mbak siap. Bisa kasih tahu alamat kantornya di mana?”
Setelah ngasih
alamat kantor, mbaknya langsung menutup teleponnya. Padahal tadinya
aku menanyakan namanya, alamatnya, dan sudah punya pacar atau belum.
Gara-gara habis
ditelpon sama nomer yang ternyata mau menawarkan pekerjaan, aku jadi
penasaran sama nomer-nomer tadi pagi yang berusaha buat menelponku.
Jangan-jangan mereka juga mau ngasih aku pekerjaan.
Karena aku cukup
punya banyak pulsa saat ini, aku mencoba untuk menelpon balik mereka
one by one.
Dari sekian nomer
yang sudah aku hubungi, nomer inilah 085725850*** yang berhasil
mencengangkan aku. Iya, saat aku menghubunginya, dia langsung
mengangkat dan menjawab. Padahal aku belum ngomong apa-apa.
“Da, kamu tadi
pagi kemana aja sih? Susah banget dihubungi”. Bentak dia. Aku tahu
dia kesel banget sama aku. Mungkin dia lagi PMS, aku memaklumi itu.
“Hehe maaf tadi
aku belum bangun. Ada apa emang? Kok tumben nelpon aku pagi-pagi?”
“Pagi-pagi
apanya tadi udah siang tahu!! Mau tak ajak ke Bandungan kok *tanda
seru tanda seru tanda seru tanda seru*”
Dengar kalimat
“mau tak ajak ke Bandungan”, seketika itu aku langsung speechles,
aku nggak tau yang barusan terjadi dalam sepersekiandetik hidupku
itu apa. Ada cewek-yang-selama-ini-menjadi-obsesi-seksualku ngajakin
aku ke “Bandungan” yang notabene itu merupakan tempat tujuan buat
chek-in.
Aku sempat
mengutuk diriku sendiri. Kenapa tadi pagi aku nggak mengangkat
telepon darinya? Kenapa?! Aku merasa menyesal sekali karena sudah
melewatkan cewek-yang-selama-ini-menjadi-obsesi-seksualku ngajakin
check-in. Aku sempat berpikir dan yakin banget kalau pagi itu
dia pasti lagi sange tingkat tinggi karena sampai berkali-kali
menghubungiku buat ngajakin aku check-in. Itu asumsiku saja.
Sebenarnya tujuan dia ngajakin aku ke Bandungan mau ngapain aku nggak
tahu.
Aku sempat nanya
ke dia, tujuan dia ngajakin aku ke Bandungan mau ngapain, tapi dia
nggak mau jawab. Katanya “udah nggak usah dibahas lagi.” Dan
sampai sekarang tujuan dari
cewek-yang-selama-ini-menjadi-obsesi-seksualku yang ngajakin ke
Bandungan belum terjawab. Masih menjadi misteri. Kadang aku berharap,
bila waktu itu bisa berulang kembali, pasti aku nggak akan
melewatkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar