Minggu, 22 Maret 2015

Check-in Yuuk !!

“... I’m at a payphone trying to call home
All of my change, I spent on you
Where have the times gone
Baby, it’s all wrong
Where are the plans we made for two...”
Lirik lagu Payphone punyanya Maroon 5 yang dicover oleh si bibir sexy Niki Minaj itu, dari tadi pagi terus saja mengalun indah mewarnai pagi yang masih gelap di kamarku. Eh, bukan gelap ding, karena ini sudah pukul 07.00 WIB, cuma kamarku saja yang masih tertutup rapat, sehingga sinar mentari pagi yang hangat nggak bisa menyelinap masuk menyinari kamarku yang masih saja terasa senyap ini.
STOP !! Bentar bentar, ini kayaknya bukan kamarku. “Aku ini lagi di mana? Kamu siapa? Apa yang terjadi semalam?” Halah...
Iya, ini bukan di kamarku, tapi di rental PlayStation-nya @KhafidArdiansyah, sahabat seperjuanganku dulu saat masih sama-sama memperjuangkan sebuah toga sampai titik darah penghabisan. Lima tahun bergelut dengan buku dan teori-teori di sebuah perguruan-tinggi-swasta-yang-mempunyai-visi-melaju-dengan-mutu di Kota Semarang.
Sudah hampir satu bulan aku dipelihara oleh @KhafidArdiansyah. Tidur di tempatnya, makan di tempatnya, ngopi di tempatnya, mandi di tempatnya, dan juga boker di tempatnya. Tapi aku nggak ngupil di tempanya kok, sumpah!!

Awal ceritanya bermula saat dia melihat aku terdiam tak berdaya, di sudut sekolah tempat yang kau janjikan ingin berjumpa denganku walau mencuri waktu berdusta pada guru #Nananana
Oke skip, kembali ke laptop. Bukan! Kembali ke jalan yang benar, bukaan juga ! kembali ke lirik lagu Payphone tersebut di atas. Iya, lirik lagu itu ada karena itu merupakan nada dering panggilan yang sudah aku pasang sebelumnya di ponsel klasikku ini. Dan tentunya nada dering itu bunyi karena ada panggilan yang masuk. Mengapa bisa begitu? Ohh, sudah pada tahu? Yasudahlah.
Dari tadi pukul ... berapa ya aku lupa, bentar bentar aku coba mengingat-ingat dulu. *krik krik krik* (seolah-olah itu suara jam yang berputar bukan suara jangkrik) nggak ingat juga. Kayaknya aku emang benar-benar sudah lupa, tapi ini aku terlupa bukan karena faktor usia, memang karena aku lupa saja. Serius, ini nggak bohong.
Dari tadi pagi, ada banyak sekali banget panggilan masuk dengan nomer yang berbeda-beda.
Ada nomer lama yang sudah tersimpan dan ada nama pemiliknya, ada nomer lama yang aku simpan dan nggak ada nama pemiliknya, ada nomer lama yang sudah aku hapus dan nggak ada nama pemiliknya, ada nomer baru yang belum aku simpan dan belum ada nama pemiliknya, ada nomer baru yang sudah aku simpan kemudian aku hapus dan belum ada nama pemiliknya, dan ada juga nomer baru yang belum aku simpan dan belum ada nama pemiliknya.
Ada-ada saja kan? Kandani o’ !!
Dari sekian nomer yang melakukan panggilan tapi nggak aku angkat itu, ada beberapa nomer yang berani untuk mencoba mengirimkan pesan singkat, aku biasa menyebutnya dengan sms. Aku salut pada nomer itu. Karena nomernya cantik? Bukan pada nomernya si, tapi pada pemiliknya. Dia nggak putus asa, otaknya jalan, kakinya mikir, dia merasa punya alternatif lain yang bisa dia lakukan agar hasratnya itu bisa terpenuhi.
Dan akhirnya dengan mengirimkan pesan singkatlah yang kemudian dia ambil. Isi dari pesan tersebut yaitu menanyakan aku lagi ada di mana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa? Bukan!! Tapi dia menanyakan kepadaku nanti malam ada acara apa nggak. Saat menerima pesan itu, aku nggak langsung membalasnya (jangan berpikiran kalau aku nggak langsung membalas pesan itu karena aku nggak punya pulsa, karena saat itu emang aku lagi nggak punya pulsa) melainkan aku langsung menanyakan schedule-ku terlebih dahulu sama managerku, tapi nggak ada jawaban, karena memang aku nggak punya manager. Kemudian aku bertanya pada rumput yang bergoyang, dan tetap saja aku nggak mendapatkan jawaban atas pertanyaanku itu. Aku nggak bisa seperti Om Ebiet. Aku nggak bisa. Aku lemah. Sebagai seorang lelaki, aku merasa aku telah gagal. Lelaki macam apa aku ini.
Selain nomer tersebut di atas ada juga nomer yang mengganggu pikiran di alam bawah sadarku. Iya, karena nomer itu beda dengan nomer-nomer yang lain. Jumlah digitnya beda, nggak 12 seperti nomer yang lain. Nomer itu juga melakukan panggilan berkali-kali nggak cuma sekali ataupun dua kali, tapi berkali-kali. Catat, berkali-kali. 3 atau 4 kali kalau nggak salah. Nggak seperti nomer lain yang melakukan panggilan cuma sekali atau dua kali saja. Nomer itu berani tampil beda. Keren. Setelah aku selidiki ternyata itu bukan nomer telepon seluler, itu nomer telepon rumah. Tapi siapa yang menelponku pakai nomer telepon rumah sampai berkali-kali itu?? Siapa?? Siapa tolong jawab !! Please...
Dari semua nomer-nomer yang melakukan panggilan itu, aku kira mereka cuma mau mendengarkan RBT baruku saja. Karena pernah terjadi sebelumnya ada nomer lama yang sudah tersimpan di kontak hapeku dan sudah ada nama pemiliknya melakukan panggilan ke nomerku. Aku sempet terlena sejenak karena mendengar nada dering di hapeku yang berbunyi itu. Setelah tersadar, kemudian aku angkat, seolah-olah aku ngomong seperti ini, “Assalamu’alaikum, dengan @dadangpratama di sini, ada yang bisa saya bantu?” padahal sebenarnya seperti ini, “hallo, ada apa?” Dan dia (lawan bicaraku yang berada nun jauh di sana, entah dimana) menjawab seperti ini, “Kok malah kamu angkat si Da!? Aku kan nelpon kamu cuma mau dengerin RBT kamu yang baru itu. Aku suka sama lagu itu *tanda seru tanda seru emoticon kesal*, kemudian terdengar bunyi tut tut tut suara sepatu kuda.
Nah, dari kejadian itulah aku belajar. Seperti kata pantun, eh bukan pantun tapi pepatah, hmm kayaknya bukan pepatah juga deh... pokoknya itu yang tertulis di buku tulis SIDUL yang ada di paling bawah itu, “belajar dari pengalaman” yeah, because experience is the best teacher”. Aku ingat, itu adalah sebuah peribahasa. Dan kemudian dari pada itu, maka setiap hapeku berdering karena ada panggilan yang masuk, aku biarin saja. Paling itu cuma mereka yang mau dengerin RBT baruku saja. Lagian aku juga menikmati nada dering di hapeku yang berbunyi setiap ada panggilan yang masuk. Lagunya Maroon 5 yang dicover sama Niki Minaj. Suaranya sexy seperti orangnya, halaaah...
Setelah pagi itu mereka (mungkin merasa) gagal untuk bisa menghubungiku, akhirnya siangnya mereka mencoba keberuntungan kembali untuk menghubungiku lagi.
Sekitar pukul 13:00 kembali terdengar suara dari Niki Minaj yang menyanyikan lagunya Maroon 5 itu dari hapeku. Kali ini yang menelpon nomer rumah. Ini terlihat dari struktur nomernya yang seperti ini ********** (sensor).
Karena aku punya motto belajar dari pengalaman, aku nggak langsung mengangkat telepon itu. “Ah, paling temenku yang iseng mau dengerin RBTku aja”, gumamku. Aku biarkan dulu beberapa saat dan akhirnya mati. Kemudian selang beberapa detik, nomer itu menelpon lagi. Aku masih bergeming. Dan pada panggilan yang ketiga, aku mencoba untuk mengangkat telepon itu. Bukan karena aku nggak suka sama dia yang lagi asyik dengerin RBT punyaku, hanya saja aku lama-lama kesal juga.
“hallo, selamat siang. Dengan Bapak Dadang Pratama?”, suara seorang cewek yang berada di balik telepon itu. Walaupun aku belum lihat wajahnya seperti apa, aku yakin kalau dia itu cantik.
Dengan agak sedikit shock aku jawab, “Iya, hallo juga. Benar sekali. Anda siapa? Saya lagi ada di mana? Apa yang terjadi semalam?”
“Kami dari *tiiiiiiiiiiiiitt* bermaksud untuk mengundang Bapak Dadang Pratama dalam walk interview di *tiiiiiiiiitt* besok hari Senin pukul 09.00, gimana Bapak Dadang Pratama bisa hadir?”
“Maaf mbak, saya masih kecil dan imut-imut, jangan panggil saya dengan sebutan Bapak bisa? Karena jangankan punya anak, punya pacar saja saya belum.” Aku sempet agak sedikit tersinggung dengan kata Bapak yang diucapkan mbaknya berkali-kali kepadaku itu. Itu aku bicara dalam hati. Aslinya begini, “Iya, mbak siap. Bisa kasih tahu alamat kantornya di mana?”
Setelah ngasih alamat kantor, mbaknya langsung menutup teleponnya. Padahal tadinya aku menanyakan namanya, alamatnya, dan sudah punya pacar atau belum.
Gara-gara habis ditelpon sama nomer yang ternyata mau menawarkan pekerjaan, aku jadi penasaran sama nomer-nomer tadi pagi yang berusaha buat menelponku. Jangan-jangan mereka juga mau ngasih aku pekerjaan.
Karena aku cukup punya banyak pulsa saat ini, aku mencoba untuk menelpon balik mereka one by one.
Dari sekian nomer yang sudah aku hubungi, nomer inilah 085725850*** yang berhasil mencengangkan aku. Iya, saat aku menghubunginya, dia langsung mengangkat dan menjawab. Padahal aku belum ngomong apa-apa.
“Da, kamu tadi pagi kemana aja sih? Susah banget dihubungi”. Bentak dia. Aku tahu dia kesel banget sama aku. Mungkin dia lagi PMS, aku memaklumi itu.
“Hehe maaf tadi aku belum bangun. Ada apa emang? Kok tumben nelpon aku pagi-pagi?”
“Pagi-pagi apanya tadi udah siang tahu!! Mau tak ajak ke Bandungan kok *tanda seru tanda seru tanda seru tanda seru*”
Dengar kalimat “mau tak ajak ke Bandungan”, seketika itu aku langsung speechles, aku nggak tau yang barusan terjadi dalam sepersekiandetik hidupku itu apa. Ada cewek-yang-selama-ini-menjadi-obsesi-seksualku ngajakin aku ke “Bandungan” yang notabene itu merupakan tempat tujuan buat chek-in.
Aku sempat mengutuk diriku sendiri. Kenapa tadi pagi aku nggak mengangkat telepon darinya? Kenapa?! Aku merasa menyesal sekali karena sudah melewatkan cewek-yang-selama-ini-menjadi-obsesi-seksualku ngajakin check-in. Aku sempat berpikir dan yakin banget kalau pagi itu dia pasti lagi sange tingkat tinggi karena sampai berkali-kali menghubungiku buat ngajakin aku check-in. Itu asumsiku saja. Sebenarnya tujuan dia ngajakin aku ke Bandungan mau ngapain aku nggak tahu.
Aku sempat nanya ke dia, tujuan dia ngajakin aku ke Bandungan mau ngapain, tapi dia nggak mau jawab. Katanya “udah nggak usah dibahas lagi.” Dan sampai sekarang tujuan dari cewek-yang-selama-ini-menjadi-obsesi-seksualku yang ngajakin ke Bandungan belum terjawab. Masih menjadi misteri. Kadang aku berharap, bila waktu itu bisa berulang kembali, pasti aku nggak akan melewatkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar