Setelah sekian
lama menjalani hidup sebagai seorang jomblo expert. Jomblo
expert? Apa itu? Jomblo expert adalah merupakan
tingkatan dari jomblo stadium ketiga dari keempat tingkatan stadium
jomblo yang berlaku di Indonesia.
Eits, tunggu dulu,
kenapa gue jadi ngomongin jomblo? Kenapa kalian jadi bangga begitu
tahu kalau gue jomblo? Gue nggak mau membahas itu. Gue nggak mau
membahas kalau gue lagi jomblo. Nggak! Menambah rasa sakit saja.
Gue mau pamer
kalau sekarang gue sudah nggak bangun siang-twitteran-makan
(sambil twitteran)-nonton tv (sambil twitteran)-mandi
(nggak sambil twitteran)-nongkrong (sambil twitteran)-ngabisin
duit (kadang sambil twitteran juga)-begadang (sambil
twitteran)-tidur (nggak sambil twitteran).
Gue sudah bisa bangun pagi
(nggak langsung twitteran)-sholat (nggak sambil
twitteran)-mandi (nggak sambil twitteran juga)-sarapan
(sambil twitteran)-cari duit- (nggak sempet twitteran)-
(bisa) sedekah (nggak gue pamerin di twitter).
Sudah keren kan
siklus kehidupan gue sekarang? Hahaha... Iya, sekarang gue sudah
kerja. Kerja beneran kerja. Bukan “kerjaannya ngetwit”
atau “kerjaannya mencari kerja” atau “kerjaannya tidur”.
Kerjanya ini beneran menghasilkan duit. Jadi wartawan, kerenkan?
Hahahalhamdulillah...
Karena memang gue hobby menulis
dan karena memang penampilan gue juga yang journalist-able
banget, akhirnya gue diterima tanpa tes di perusahaan
media-cetak-yang-ada-di-kota-Semarang itu. Bilang apah?
Alhamdulillah...
Ehm, tapi
sebenarnya si karena sahabat gue, BJ, itu yang sudah melobikan
gue sehingga gue bisa diterima menjadi wartawan di
media-cetak-yang-ada-di-kota-Semarang itu dengan mudah, tanpa ada
halangan dan rintangan yang menghadang. Iya, karena kawan gue si BJ
itu sudah kenal sama pimpinan redaksi di
media-cetak-yang-ada-di-kota-Semarang itu. Hmm KKN gitu deh.
Eh, tapi nggak juga ding. Gue nggak mau
ah, kalau sampai dibilang gue KKN gitu. Bisa ditangkap KPK gue nanti.
Lagian gue kan aktivis anti korupsi, masa gue ditangkap karena kasus
yang gue antiin itu? Nggak banget kan.. Karena memang guenya saja
yang sudah ada naluri untuk menjadi wartawan.
Semenjak menjadi
wartawan di salah satu media-cetak-yang-ada-di-kota-Semarang
tersebut, gue mendadak popular. Eh, nggak juga ding, karena
sebelum gue menjadi wartawan, gue juga memang sudah popular
kok. Popular dalam bidang apa? Yang jelas bukan popular
sebagai kriminal dong ah...
Namun menjalani
hidup sebagai wartawan itu nggak semudah yang gue bayangin. Nggak
semudah ngupil pakai jari tengah. Memang si keren. Ekspetasinya cuma
mondar-mandir sambil ngalungin id card bertuliskan PERS
(dengan huruf kapital semua), nentengin kamera SLR, penampilan
seenaknya sendiri (nggak perlu pakain rapi dan berpantovel),
wawancara sama narasumber, ambil gambar pakai SLR, buat laporan,
kirim, tapi realitanya di lapangan, menjadi wartawan itu nggak
semudah nyari pacar, eh, nyari pacar juga susah ding.
Menurut Wikipedia,
definisi wartawan atau junalis yaitu seseorang yang melakukan
jurnalisme atau orang yang seara teratur menuliskan berita
(berupa laporan) dan tulisannya dikirim dan dimuat di media massa
secara teratur. Dan mereka diharapkan untuk menulis laporan yang
paling objektif dan tidak memiliki pandangan dari sudut tertentu
untuk melayani masyarakat.
Nah kan, tugas
wartawan itu bukan hanya mondar-mandir sambil ngalungin id card
bertuliskan PERS (dengan huruf kapital semua), nentengin kamera SLR
dan memotret sana-sini, penampilan seenaknya sendiri (nggak perlu
pakain rapi dan berpantovel) saja, melainkan juga diharapkan untuk
menulis laporan yang paling objektif dan tidak memiliki pandangan
dari sudut tertentu untuk melayani masyarakat.
Semenjak menjadi
wartawan yang notabene tiap hari kerjaannya menulis berita yang
sifatnya harus serius, informatif, dan juga diharapkan untuk menulis
laporan yang paling objektif dan tidak memiliki pandangan dari sudut
tertentu untuk melayani masyarakat, gue langsung kejang-kejang. Gue
memang punya hobi nulis, tapi bukan nulis yang genre begituan.
Jujur pertama gue turun di lapangan
untuk meliput berita, gue ngerasa kayak lagi di tengah-tengah
sekumpulan alien, gue nggak tahu bahasa apa yang harus gue pakai buat
ngomong sama mereka. Gue shock. Nulis dengan genre yang
bersifat serius dan informatif dan diharapkan untuk menulis laporan
yang paling objektif dan tidak memiliki pandangan dari sudut tertentu
untuk melayani masyarakat, ternyata nggak mudah.
Di hari pertama gue di lapangan memang
gue sudah dapat berita lebih dari target dari berita yang harus gue
cari, tapi yang jadi permasalahannya gue mengalami kususahan buat
nyusun itu berita. Padahal dealine pukul 16.00 bertia harus sudah gue
kirim. Sedangkan satu berita saja belum selesai gue susun, padahal
adzan Ashar sudah berkumandang dari sekitar 5 menit yang lalu. What
can I do?? God, help me please...
Karena mungkin otak gue yang masih
belum terbiasa buat nulis berita, masih dedel, akhirnya gue
kirim berita gue dengan apa adanya ke redaktur. Cuma 1 berita yang
bisa gue kirim dan itupun nggak ada 1 lembar kertas HVS. Tragis. Gue
merasa gagal menjadi wartawan seketika itu.
Seiring berjalannya kaki Giring Nidji,
gue menjadi terbiasa menulis berita. Target buat mencari dan
mengirimkan 3 berita perhari menjadi begitu enteng. Namun, semakin
terbiasanya gue nulis berita, gue malah jadi nggak terbiasa lagi buat
nulis keresahan dan kegelisahan gue di blog. Gue kini mengalami
kesusahan. Blog gue kini terabaikan. Kini gue lebih sering ngirim
berita ke redaktur daripada posing tulisan gue di blog. Gue tiap hari
bisa ngirim 3 berita ke redaksi, tapi buat posting 1 tulisan ke blog
saja gue nggak bisa. Gue takut ini akan berlanjut. Gue takut blog gue
menjadi sarang laba-laba karena nggak pernah gue jamah lagi.
Bukan hanya itu, bahkan buat nulis
materi standup comedy saja kini gue merasa kesulitan yang teramat
sangat. Yang tadinya gue butuh waktu sehari buat nulis materi, kini
dalam kurun waktu seminggu saja gue belum bisa mendapatkan inspirasi.
Sekarang gue sudah susah buat melucu lagi. Sekarang gue tumbuh
menjadi orang yang sok serius. Gue takut kalau gue nggak lucu lagi,
gue nggak akan dapat panggilan buat open mic kembali.
Gue dilema. Gue nggak bisa ninggalin
karir gue sebagai comic yang sudah gue rintis sejauh ini. Fans-fans
gue kasihan juga kalau gue close mic. Tapi di sisi lain, gue juga
harus punya pekerjaan tetap yang bisa ngasih duit gue tiap tanggal
muda.
Daripada gue
bingung gini, yasudahlah, gue bunuh diri saja. Eh, tidur saja ding.
Sudah malam juga. Ngantuk. Besok mau bangun pagi, mau ngeliput Pak
@ganjarpranowo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar