Coba Lihat, Dengar, Rasakan title tersebut di atas. Iya, exit (baca: eks shit!). Exit berasal dari kata eks yang artinya bekas (benda); mantan (orang) dan shit! Yang artinya sialan. Jadi exit di sini berarti mantan sialan. Atau bisa juga berarti barang bekas yang sungguh tidak ada gunanya lagi sama sekali. Sampah.
Oke, mungkin cukup bara-berenya, basa-basinya maksudnya.
Karena pada kesempatan yang berbahagia ini aku mau menceritakan sepenggal kisahku
bertemu dengan salah seorang mantanku, iya, bekasku yang kini sudah dimanfaatkan (daur ulang) oleh orang lain yang lebih membutuhkannya.
Hmm malem itu nggak seperti malam-malam biasanya,
gelap (iyalah namanya juga malam hari) dan meneteskan titik-titik air dari langit. Iya, karena malam itu emang gerimis atau mungkin karena malam itu akan terjadi fenomena alam atau bahkan mungkin karena akan terjadi bencana alam? Na’udzubillahimindalik, jangan sampai terjadi bencana alam dulu karena aku nggak ingin mati muda, belum kawin, eh, belum nikah.
gelap (iyalah namanya juga malam hari) dan meneteskan titik-titik air dari langit. Iya, karena malam itu emang gerimis atau mungkin karena malam itu akan terjadi fenomena alam atau bahkan mungkin karena akan terjadi bencana alam? Na’udzubillahimindalik, jangan sampai terjadi bencana alam dulu karena aku nggak ingin mati muda, belum kawin, eh, belum nikah.
Malam itu, aku bertemu dengan salah satu mantanku, sebut
saja dia Mawar di sebuah cafe di daerah Semarang. Sebelumnya dia (Mawar) sudah
menghubungiku via BBM tapi sayang, aku nggak punya BB. Iya, hpku nggak bisa buat BBM-an, bisanya buat nonton tipi. Jadi akhirnya dia
menghubungiku lewat jalur udara, SMS. Dia menyuruhku untuk datang pukul 19.00.
Sebenarnya aku malas untuk menemui dia, tapi karena dianya ngotot banget mau
ketemu, ya sudahlah dengan terpaksa, aku mau meluangkan sedikit waktu dan
kesibukanku untuk menemuinya. Siapa tahu nanti ditraktir makan di cafe
tersebut, kan lumayan. #AnakKos
Begitu aku masuk ke cafe, dia langsung melihatku, kemudian
dia melambaikan tangan ke kamera karena sudah nggak kuat. Eh, bukan! Dia
melambaikan tangan kepadaku agar aku bisa melihatnya di sana. Aku menoleh ke
arahnya. Dia duduk di salah satu meja yang berada di pojok kanan. Saat itu
samar-samar terdengar lagunya White Lion
yang You Are All I Need. Secara
samar-samar pula aku melihat dia dengan memakai jaket pemberianku dulu yang
berwarna biru tua. Celananya jeans warna biru muda sama dengan warna sepatunya
(sepatu beneran). Dia tersenyum melihatku. Terlihat bibirnya yang dilapisi
lipstik merah muda keunguan mekar seperti kembang sepatu (bukan sepatu beneran).
Dan matanya yang dilapisi eye shadow dan maskara mengedip-ngedip seperti
kelilipan sepatu (tidak benar-benar kelilipan sepatu).
Langkah kakiku mulai berjalan menghampirinya seiring dengan
suara musik yang sedang diputar. Tuk tik
tak tik tuk tik tak tik tuk (itu suara sepatu kuda bukan suara sepatuku).
“Silahkan duduk mas...” dengan senyumya yang (dibuat seolah)
menggoda, dia mencoba untuk mulai membuka percakapan. “Iya, terimakasih...” aku
merespon dengan (dibuat seolah) tersenyum kepadanya. Iya, sebenarnya sampai saat
ini aku masih kesel, sebel, dongkol, marah, benci, juga merasa sakit banget
karenanya.
Setelah sedikit berbara-bere, eh bukan, berbasa-basi,
berpanjangkalilebar, berkesanakemari, dan muter-muter nggak jelas, akhirnya dia
menyampaikan apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan (iya, terus mau
menyampaikan apa??) #Permodusan Dia sengaja ngajak aku ke cafe ini, tempat yang
dulu kami biasa buat menghabiskan waktu bersama, tidak lain tidak bukan hanya
karena dia ingin kembali ke pelukanku lagi, menjalani hidup bersamaku lagi,
berbagi marah dan canda denganku lagi, dan bersamaku-denganku lagi yang
lainnya.
Hmm walaupun meskipun biar bagaimanapun dia berlutut dan
memohon-mohon di hadapanku sampai bersimbah darah, aku nggak akan memungutnya
lagi. Iyalah, gila apa?! Ogah aku memakan kembali racun yang udah basi,
udah kadaluwarsa. Walaupun meskipun biar
bagaimanapun udah didaur ulang, racun ya tetep racun. Aku nggak mau teracuni untuk
yang kedua kalinya lagi. Kapok aku sama dia. Sakiiiiitt.
Mungkin kini dia mulai sadar, jika selama ini hanya aku yang
bener-bener tulus mencintainya. Dan berdasarkan dari hasil ceritanya, aku dapat
menarik kesimpulan kalau ternyata dia telah ternodai oleh pacarnya, sebut saja
pacarnya itu Mr. P. Dan kini malah Mr. P pergi ninggalin dia karena si Mr. P
sudah bertunangan dengan wanita lain, sebut saja dia Mrs. V.
Karma. Iya, mungkin itu yang sudah didapat oleh mantanku si
Mawar. Dia dulu dengan tanpa dosa, dengan mudahnya berjalan melenggang
meninggalkanku begitu saja karena tersepona, eh terpesona oleh si Mr. P itu. Bebas
kulepaskan dia. Perjuanganku sia-sia karena emang benteng yang aku bangun untuk
mempertahankannya nggak sanggup lagi menahan deras laju keinginannnya untuk
pergi. Sungguh saat itu aku merasakan sakit banget.
Tapi seiring berjalannya waktu aku bisa dengan mudah
melupakan Mawar. Hmm mungkin karena emang dia bukan jodohku dan mungkin karena tuhan
punya bidadari yang akan diturunkan buatku nanti. Yeah, I will get it.
Dan ternyata emang benar, tuhan telah mengirim bidadarinya
buat menggantikan si sampah, eh, si Mawar. Dewasa, cantik, dan juga pinter
masak. Cocok banget buat dijadiin seorang ibu buat anak-anakku nanti. Aamiin...
calon istri idaman pokoknyalah. Aku sering memanggilnya Dek Cantik. Beda banget sama si Mawar. Dia nggak bisa
masak, pikirannya masih kekanak-kanakan, kalau soal kecantikannya, hmm semua
mantanku cantik-cantik tapi sampah semua. Exit.
Gambar. My lovely, Dek Cantik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar