Jumat, 10 Januari 2014

EXIT (baca: Eks Shit!)


Coba Lihat, Dengar, Rasakan title tersebut di atas. Iya, exit (baca: eks shit!). Exit berasal dari kata eks yang artinya bekas (benda); mantan (orang) dan shit! Yang artinya sialan. Jadi exit di sini berarti mantan sialan. Atau bisa juga berarti barang bekas yang sungguh tidak ada gunanya lagi sama sekali. Sampah.

Oke, mungkin cukup bara-berenya, basa-basinya maksudnya. Karena pada kesempatan yang berbahagia ini aku mau menceritakan sepenggal kisahku bertemu dengan salah seorang mantanku, iya, bekasku yang kini sudah dimanfaatkan (daur ulang) oleh orang lain yang lebih membutuhkannya.

Hmm malem itu nggak seperti malam-malam biasanya,
gelap (iyalah namanya juga malam hari) dan meneteskan titik-titik air dari langit. Iya, karena malam itu emang gerimis atau mungkin  karena malam itu akan terjadi fenomena alam atau bahkan mungkin karena akan terjadi bencana alam? Na’udzubillahimindalik, jangan sampai terjadi bencana alam dulu karena aku nggak ingin mati muda, belum kawin, eh, belum nikah.

Malam itu, aku bertemu dengan salah satu mantanku, sebut saja dia Mawar di sebuah cafe di daerah Semarang. Sebelumnya dia (Mawar) sudah menghubungiku via BBM tapi sayang, aku nggak punya BB. Iya, hpku nggak bisa buat BBM-an, bisanya buat nonton tipi. Jadi akhirnya dia menghubungiku lewat jalur udara, SMS. Dia menyuruhku untuk datang pukul 19.00. Sebenarnya aku malas untuk menemui dia, tapi karena dianya ngotot banget mau ketemu, ya sudahlah dengan terpaksa, aku mau meluangkan sedikit waktu dan kesibukanku untuk menemuinya. Siapa tahu nanti ditraktir makan di cafe tersebut, kan lumayan. #AnakKos

Begitu aku masuk ke cafe, dia langsung melihatku, kemudian dia melambaikan tangan ke kamera karena sudah nggak kuat. Eh, bukan! Dia melambaikan tangan kepadaku agar aku bisa melihatnya di sana. Aku menoleh ke arahnya. Dia duduk di salah satu meja yang berada di pojok kanan. Saat itu samar-samar terdengar lagunya White Lion yang You Are All I Need. Secara samar-samar pula aku melihat dia dengan memakai jaket pemberianku dulu yang berwarna biru tua. Celananya jeans warna biru muda sama dengan warna sepatunya (sepatu beneran). Dia tersenyum melihatku. Terlihat bibirnya yang dilapisi lipstik merah muda keunguan mekar seperti kembang sepatu (bukan sepatu beneran). Dan matanya yang dilapisi eye shadow dan maskara mengedip-ngedip seperti kelilipan sepatu (tidak benar-benar kelilipan sepatu).

Langkah kakiku mulai berjalan menghampirinya seiring dengan suara musik yang sedang diputar. Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk (itu suara sepatu kuda bukan suara sepatuku).

“Silahkan duduk mas...” dengan senyumya yang (dibuat seolah) menggoda, dia mencoba untuk mulai membuka percakapan. “Iya, terimakasih...” aku merespon dengan (dibuat seolah) tersenyum kepadanya. Iya, sebenarnya sampai saat ini aku masih kesel, sebel, dongkol, marah, benci, juga merasa sakit banget karenanya.
Setelah sedikit berbara-bere, eh bukan, berbasa-basi, berpanjangkalilebar, berkesanakemari, dan muter-muter nggak jelas, akhirnya dia menyampaikan apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan (iya, terus mau menyampaikan apa??) #Permodusan Dia sengaja ngajak aku ke cafe ini, tempat yang dulu kami biasa buat menghabiskan waktu bersama, tidak lain tidak bukan hanya karena dia ingin kembali ke pelukanku lagi, menjalani hidup bersamaku lagi, berbagi marah dan canda denganku lagi, dan bersamaku-denganku lagi yang lainnya.

Hmm walaupun meskipun biar bagaimanapun dia berlutut dan memohon-mohon di hadapanku sampai bersimbah darah, aku nggak akan memungutnya lagi. Iyalah, gila apa?! Ogah aku memakan kembali racun yang udah basi, udah  kadaluwarsa. Walaupun meskipun biar bagaimanapun udah didaur ulang, racun ya tetep racun. Aku nggak mau teracuni untuk yang kedua kalinya lagi. Kapok aku sama dia. Sakiiiiitt. 

Mungkin kini dia mulai sadar, jika selama ini hanya aku yang bener-bener tulus mencintainya. Dan berdasarkan dari hasil ceritanya, aku dapat menarik kesimpulan kalau ternyata dia telah ternodai oleh pacarnya, sebut saja pacarnya itu Mr. P. Dan kini malah Mr. P pergi ninggalin dia karena si Mr. P sudah bertunangan dengan wanita lain, sebut saja dia Mrs. V.

Karma. Iya, mungkin itu yang sudah didapat oleh mantanku si Mawar. Dia dulu dengan tanpa dosa, dengan mudahnya berjalan melenggang meninggalkanku begitu saja karena tersepona, eh terpesona oleh si Mr. P itu. Bebas kulepaskan dia. Perjuanganku sia-sia karena emang benteng yang aku bangun untuk mempertahankannya nggak sanggup lagi menahan deras laju keinginannnya untuk pergi. Sungguh saat itu aku merasakan sakit banget.

Tapi seiring berjalannya waktu aku bisa dengan mudah melupakan Mawar. Hmm mungkin karena emang dia bukan jodohku dan mungkin karena tuhan punya bidadari yang akan diturunkan buatku nanti. Yeah, I will get it.

Dan ternyata emang benar, tuhan telah mengirim bidadarinya buat menggantikan si sampah, eh, si Mawar. Dewasa, cantik, dan juga pinter masak. Cocok banget buat dijadiin seorang ibu buat anak-anakku nanti. Aamiin... calon istri idaman pokoknyalah. Aku sering memanggilnya Dek Cantik. Beda banget sama si Mawar. Dia nggak bisa masak, pikirannya masih kekanak-kanakan, kalau soal kecantikannya, hmm semua mantanku cantik-cantik tapi sampah semua. Exit.

                                                         Gambar. My lovely, Dek Cantik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar