Senin, 06 Januari 2014

Special Day with Special Woman

Happy birthday to you... happy birthday to you... Itulah sepenggal kata-kata yang tersusun menjadi subuah lirik ucapan selamat ulang tahun. Lirik yang keluar dari mulut manis seorang cewek cantik yang lagi berada di depanku dengan kue tart di tangannya. Terlihat matanya berbinar, membuat suaranya semakin nyaring didengar, syahdu... 

Wusssh...


Iya, hari itu, Senin, 02 Desember 2013 aku merayakan hari ulang tahunku untuk yang
kesekian kalinya. Dan sekarang usiaku udah genap, 17+... (nggak usah tanya + nya berapa). Yang jelas dengan bertambahnya usiaku ini, membuat aku menjadi semakin tua. Eh, nggak tua, tapi semakin dewasa. Asyeeek...

Ulang tahunku kali ini terasa begitu berbeda dengan ulang tahunku sebelumnya. Iya, karena ulang tahunku yang sebelumnya nggak pernah dirayain. Apalagi dirayainnya di tempat yang romantis, bareng cewek. Ceweknya cantik lagi. Uhh, so sweet...

Hmm, emang udah beberapa minggu ini ada someone special yang selalu ada di setiap hari-hariku. Iya, karena sebelumnya aku jomblo. Jadi selalu sendirian, kesepian, kedinginan, bla bla bla... Eh, aku nggak jomblo dink, cuma belum ada cewek yang beruntung bisa dapetin hatiku aja. Halah...

Nurika Lisiani Pradananingrum,
cantik kan namanya? Jelas donk, orangnya aja cantik, namanya juga pasti cantik. Iyalah, namanya juga bidadari jatuh dari surga di hadapanku, eeaaaa.
Dialah sosok cewek yang selama ini aku tunggu, cewek yang udah bisa membuat aku untuk jatuh cinta lagi. Setelah sekian lama aku mati rasa. Merasakan kehampaan dan kekosongan yang melanda (bedanya kosong sama hampa apa??) Dan dia jugalah yang udah ngasih surprise di hari ulang tahunku ini. Ngasih kue tart, ngasih kado, ngasih waktu, dan ngasih cintanya buat aku. Iya, di saat moment pemotongan kue, aku menyatakan cinta padanya. Mengungkapkan apa yang ada di lubuk hatiku.
Saat itu aku berabasa-basi dengan susunan kata-kata yang terangkai menjadi sebuah pertanyataan yang inti dari pernyataan itu kalau selama ini aku falling in love with her. Dan atas berkat rahmat Allah SWT dan dengan didorong oleh keinginan luhur, maka aku katakan padanya, “I love you kha... will you be my love??”. Sejenak dia terdiam, kemudian tersenyum. Matanya berbinar, aku pegang tangannya. “I love you too Mas...” kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya. Seketika itu rasanya aku menggelinjang, terus terbang ke angkasa, menembus pelangi, lewati langit tujuh bidadari (iya, itu lirik lagunya Ada Band). Dan seketika itu pula aku langsung mencium keningnya. Dia tersipu malu. Walaupun ada something yang sedikit mengganggu alam bawah sadarku, mengganjal di otakku. Iya, karena dia nggak menjawab dia mau menjadi my love atau nggak. Tapi, ya sudahlah... itu nggak penting. Karena yang terpenting dia juga mempunyai perasaan yang sama padaku.

“Permisi mas, pesanannya...” Suara dari waitrees yang tiba-tiba muncul di hadapan kami (aku dan *Cantik [panggilan sayangku pada perempuanku]), entah waitrees itu muncul darimana, namun yang jelas nggak terjatuh dari surga. Kedatangannya emang mengagetkan kami (aku dan Cantik). Sambil meletakkan makanan dan minuman yang udah kami (aku dan Cantik) pesen, waitrees itu melirik kue tart yang ada di tangan kami (aku dan Cantik). “Masnya ulang tahun yah... Selamat ya mas, semoga tuhan melindungi kamu serta tercapai semua angan dan cita-citamu, semoga diberi umur panjang sehat selama-lamanya (bener, ini lirik lagunya Jamrud) dan semoga skripsinya cepat selesai biar bisa cepat diwisuda (kalau ini bukan lirik lagunya Ada Band ataupun Jamrud, tapi ini laguku. Eh, bukan! Ini doaku). Setelah sekian detik kami (aku dan waitrees) saling bersalaman (cuma salaman nggak lebih), akhirnya si waitrees pamit meninggalkan kami (aku dan Cantik).

Hmm, tapi sebelum kenangan indah di pondok makan “Gubug Silengkong” itu terukir, kami berdua sempet melancong ke City of Batik.. Yupz, kami berdua sempet spend time di Pekalongan. Karena emang sudah direncanain sebelumnya, kalau tujuan kami dari awal ingin ke Pekalongan. Ehm, di Pekalongan, tempat kami yang pertama kunjungi yaitu ke Setono, shooping batik.
Di sana kami muter-muter buat hunting “sarimbit” (pakaian batik berpasangan atau bahasa gaulnya cuople, tapi kalau untuk batik ya namanya sarimbit itu). Setelah kurang lebih 3600 detik, akhirnya kami menemukan sarimbit yang cocok dengan hati kami. Warnanya merah hati, cocok juga dengan warna hati kami (emang hati ada warna lain selain warna merah??).

Ada yang aneh?? Iya, emang. Saat itu kami emang belum ada ikatan apa-apa, tapi kami udah yakin dengan sepenuh hati membeli batik sarimbit tersebut. Padahal seharusnya (menurut UU yang berlaku) pemakai dari sarimbit itu sendiri adalah pasangan yang udah ada ikatan. Entah namanya pacaran, suami-istri, atau apapun itulah... Hmm tapi mungkin karena ada naluri dari hati kami dan mungkin karena itu adalah #TandaTuhan kalau kami ini emang ditakdirkan untuk bersama selamanya (aamiin...), maka terbelilah batik sarimbit itu.

Setelah puas mengitari Setono, akhirnya kami bertolak ke Jetayu. Belum ke Pekalongan namanya, kalau belum menginjakkan kaki di sana. Karena di situlah alasannya kenapa gruop band Slank dengan banggan menyanyikan, “Kota Batik di Pekalongan, bukan Jogja e e buka n Solo...” Iya, karena di Jetayulah museum batik berada. Di situ, kami menghabiskan waktu dengan mencari angle dan memasang gaya buat mengabadikan kebersamaan kami.

Seiring waktu yang terus berputar, perut kami pun meminta haknya, iya kami laper. Aku pun mengajak Cantik untuk beranjak dari Jetayu untuk mencari sesuatu buat mengganjal perut. Dan berhentilah kami di sebuah warung nasi megono (makanan khas kota Batang dan Pekalongan) yang terdapat di tepian lapangan Sorogenen.

Energi sudah terisi, perjalanan pun dilanjutkan menuju ke arah selatan. Ke arah Blado dan kemudian singgah di pondok makan “Gubug Silengkong”, tempat dimana kenangan dan momen indah itu terukir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar