![]() | |
| Wusssh... |
Iya, hari itu, Senin, 02 Desember 2013 aku merayakan hari ulang tahunku untuk yang
kesekian kalinya. Dan sekarang usiaku udah genap, 17+... (nggak usah tanya + nya berapa). Yang jelas dengan bertambahnya usiaku ini, membuat aku menjadi semakin tua. Eh, nggak tua, tapi semakin dewasa. Asyeeek...
Ulang tahunku kali ini terasa begitu berbeda dengan ulang
tahunku sebelumnya. Iya, karena ulang tahunku yang sebelumnya nggak pernah
dirayain. Apalagi dirayainnya di tempat yang romantis, bareng cewek. Ceweknya cantik
lagi. Uhh, so sweet...
Hmm, emang udah beberapa minggu ini ada someone special yang
selalu ada di setiap hari-hariku. Iya, karena sebelumnya aku jomblo. Jadi
selalu sendirian, kesepian, kedinginan, bla bla bla... Eh, aku nggak jomblo
dink, cuma belum ada cewek yang beruntung bisa dapetin hatiku aja. Halah...
Nurika Lisiani
Pradananingrum,
cantik kan namanya? Jelas donk, orangnya aja cantik, namanya
juga pasti cantik. Iyalah, namanya juga bidadari
jatuh dari surga di hadapanku, eeaaaa.
Dialah sosok cewek yang selama ini aku tunggu, cewek yang
udah bisa membuat aku untuk jatuh cinta lagi. Setelah sekian lama aku mati rasa.
Merasakan kehampaan dan kekosongan yang melanda (bedanya kosong sama hampa apa??)
Dan dia jugalah yang udah ngasih surprise
di hari ulang tahunku ini. Ngasih kue tart, ngasih kado, ngasih waktu, dan
ngasih cintanya buat aku. Iya, di saat moment pemotongan kue, aku menyatakan
cinta padanya. Mengungkapkan apa yang ada di lubuk hatiku.
Saat itu aku berabasa-basi dengan susunan kata-kata yang
terangkai menjadi sebuah pertanyataan yang inti dari pernyataan itu kalau
selama ini aku falling in love with her.
Dan atas berkat rahmat Allah SWT dan dengan didorong oleh keinginan luhur, maka
aku katakan padanya, “I love you kha... will
you be my love??”. Sejenak dia terdiam, kemudian tersenyum. Matanya
berbinar, aku pegang tangannya. “I love
you too Mas...’” kata-kata itulah
yang keluar dari mulutnya. Seketika itu rasanya aku menggelinjang, terus terbang ke angkasa, menembus pelangi, lewati langit tujuh bidadari (iya,
itu lirik lagunya Ada Band). Dan seketika itu pula aku langsung mencium
keningnya. Dia tersipu malu. Walaupun ada something
yang sedikit mengganggu alam bawah sadarku, mengganjal di otakku. Iya, karena dia
nggak menjawab dia mau menjadi my love
atau nggak. Tapi, ya sudahlah... itu nggak penting. Karena yang terpenting dia
juga mempunyai perasaan yang sama padaku.
“Permisi mas, pesanannya...” Suara dari waitrees yang tiba-tiba muncul di hadapan kami (aku dan *Cantik [panggilan sayangku pada
perempuanku]), entah waitrees itu
muncul darimana, namun yang jelas nggak terjatuh dari surga. Kedatangannya
emang mengagetkan kami (aku dan Cantik). Sambil meletakkan makanan dan minuman
yang udah kami (aku dan Cantik) pesen, waitrees
itu melirik kue tart yang ada di tangan kami (aku dan Cantik). “Masnya
ulang tahun yah... Selamat ya mas, semoga
tuhan melindungi kamu serta tercapai semua angan dan cita-citamu, semoga diberi
umur panjang sehat selama-lamanya (bener, ini lirik lagunya Jamrud) dan
semoga skripsinya cepat selesai biar bisa cepat diwisuda (kalau ini bukan lirik
lagunya Ada Band ataupun Jamrud, tapi ini laguku. Eh, bukan! Ini doaku).
Setelah sekian detik kami (aku dan waitrees)
saling bersalaman (cuma salaman nggak lebih), akhirnya si waitrees pamit meninggalkan kami (aku dan Cantik).
Hmm, tapi sebelum kenangan indah di pondok makan “Gubug
Silengkong” itu terukir, kami berdua sempet melancong ke City of Batik.. Yupz, kami berdua sempet spend time di Pekalongan. Karena emang sudah direncanain sebelumnya,
kalau tujuan kami dari awal ingin ke Pekalongan. Ehm, di Pekalongan, tempat
kami yang pertama kunjungi yaitu ke Setono, shooping
batik.
Di sana kami muter-muter buat hunting “sarimbit” (pakaian batik berpasangan atau bahasa gaulnya cuople, tapi kalau untuk batik ya
namanya sarimbit itu). Setelah kurang
lebih 3600 detik, akhirnya kami menemukan sarimbit
yang cocok dengan hati kami. Warnanya merah hati, cocok juga dengan warna hati
kami (emang hati ada warna lain selain warna merah??).
Ada yang aneh?? Iya, emang. Saat itu kami emang belum ada
ikatan apa-apa, tapi kami udah yakin dengan sepenuh hati membeli batik sarimbit tersebut. Padahal seharusnya
(menurut UU yang berlaku) pemakai dari sarimbit
itu sendiri adalah pasangan yang udah ada ikatan. Entah namanya pacaran,
suami-istri, atau apapun itulah... Hmm tapi mungkin karena ada naluri dari hati
kami dan mungkin karena itu adalah #TandaTuhan kalau kami ini emang ditakdirkan
untuk bersama selamanya (aamiin...), maka terbelilah batik sarimbit itu.
Setelah puas mengitari Setono, akhirnya kami bertolak ke
Jetayu. Belum ke Pekalongan namanya, kalau belum menginjakkan kaki di sana.
Karena di situlah alasannya kenapa gruop band Slank dengan banggan menyanyikan,
“Kota Batik di Pekalongan, bukan Jogja e
e buka n Solo...” Iya, karena di Jetayulah museum batik berada. Di situ,
kami menghabiskan waktu dengan mencari angle
dan memasang gaya buat mengabadikan kebersamaan kami.
Seiring waktu yang terus berputar, perut kami pun meminta
haknya, iya kami laper. Aku pun mengajak Cantik untuk beranjak dari Jetayu
untuk mencari sesuatu buat mengganjal perut. Dan berhentilah kami di sebuah
warung nasi megono (makanan khas kota Batang dan Pekalongan) yang terdapat di
tepian lapangan Sorogenen.
Energi sudah terisi, perjalanan pun dilanjutkan menuju ke
arah selatan. Ke arah Blado dan kemudian singgah di pondok makan “Gubug
Silengkong”, tempat dimana kenangan dan momen indah itu terukir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar